KEUNIKAN BAHASA TEGAL
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh :
1. Ajeng Muhdiyani
2. Nina Fitriana
3. Putri Dani Pungky Asih
4. Tuti Amaliyah
PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL
DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA, DAN OLAHRAGA
UPTD SMA NEGERI 1 KRAMAT
Jalan Garuda No. 1a Bongkok Kec. Kramat Kab. Tegal ( (0283) 3335936
Kata Pengantar
Alhamdulillahhirabbilalamin
kami panjatkan puja dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan taufik, hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis
ilmiah ini.
Tersusunnya
karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan bahasa Tegal,
yang sekarang sudah mulai jarang digunakan, dan belum banyak orang yang
mengerti dari arti dari bahasa Tegal sendiri.
Untuk
itu kami berusaha membuat sebuah karya tulis ilmiah mengenai keunikan bahasa
Tegal, agar anda dapat mengetahui apasaja keunikan dari bahas Tegal dan contoh-contoh kalimat yang belum banyak
orang mengetahui artinya.
Mudah-mudahan
karya tulis ilmiah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan menambah
wawasan anda tentang bahasa daerah Tegal.
DAFTAR ISI
Bab
1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Rumusan Masalah
1.4 Batasan Masalah
1.5 Tujuan Penelitian
1.6 Kegunaan Penelitian
Bab 2 Landasan Teori
2.1Pengertian Masalah
2.2Kaitan Dengan Kehidupan Sehari-hari
Bab 3 Metodologi Penelitian
3.1 Metode Survei
3.2 Metode Wawancara
3.3
Metode
Daftar Pustaka
Bab 4 Pembahasan
4.1
Pembahasan
Bab 5 Penutup
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bahasa Jawa Tegal adalah salah satu dialek bahasa Jawa yang dituturkan
di Kota Tegal dan sekitarnya.Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan
bagian barat. Letak Tegal yang
ada di pesisir Jawa bagian utara, juga di
daerah perbatasan Jawa Tengah
dan Jawa Barat, menjadikan dialek
yang ada di Tegal beda dengan daerah
lainnya. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Dialek Tegal
merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa, selain Banyumas. Bahasa Tegal
merupakan bahasa yang unik, pengertian unik menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah
tersendiri bentuk atau jenisnya, lain daripada yang lain dan tidak ada
persamaan dengan yang lain, jadi unik dapat dikatakan sebagai sesuatu yang
sangat special dan jarang dijumpai. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif
sama dengan bahasa Banyumas,
pengguna dialek Tegal tidak
serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain:
perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata. Berikut tabel yang membedakan antara Bahasa Tegal dan Bahasa Daereh :
Tabel
1 (perbedaan pengucapan)
|
Dialek
Tegal
|
Bahasa
Jawa Standar
|
|
Padha
|
Podho
|
|
Saka
|
Soko
|
|
Sega
|
Sego
|
|
Apa
|
Opo
|
Tabel
2 (kesamaan ucapan pada kata dasar ditambah akhiran ne)
|
Kata
Dasar
|
Dialek
Tegal
|
Bahasa
Jawa Standar
|
|
segane+ne
|
Segane
|
segane, bukan segone
|
|
gatutkaca+ne
|
gatutkacane
|
gatutkacane, bukan gatutkocone
|
|
rupa+ne
|
Rupane
|
rupane, bukan rupone
|
1.2
Identifikasi masalah
1.
Mengapa
orang asli Tegal tidak semuanya menggunakan Bahasa Tegal?
2.
Mengapa
orang asli Tegal tidak mengerti arti dari Bahasa Tegal itu sendiri ?
3.
Apa
bahayanya jika orang asli Tegal melupakan Bahasa Tegal itu sendiri ?
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah “Kelemahan dalam menerjemahkan Bahasa Tegal kedalam Bahasa
Indonesia”
1.4 Tujuan Penelitian
Ingin mengetahui arti dari Bahasa
Tegal yang banyak orang tidak mengerti artinya.
1.5 Kegunaan
penelitian
Untuk
melestarikan Bahasa Tegal agar tidak punah. Dan untuk mendorong masyarakat agar
selalu menggunakan Bahasa peninggalan nenek moyang kita.
BAB
2
LANDASAN
TEORI
1.
1
Keunggulan Bahasa Tegal
·
Bahasa Tegal cukup mudah dipelajari,
terutama masyarakatnya sendiri.
·
Bahasa Tegal unik, karena penggunaan
katanya kita harus melihat siapa lawan bicara kita apakah lebih muda ataukah
lebih tua.
2. 2 Kelemahan Bahasa Tegal
·
Penggunaan katanya agak kasar, seperti
“mbadog” dalam Bahasa Indonesia artinya makan
·
Susah-susah gampang dipelajari, bagi
bukan orang asli Tegal akan kebingungan.
·
Susah untuk diterjemahkan
Berikut adalah contoh Dialek Tegal
A :
"Kowen kas maring ngendi?"
B :
"Kas maring warung."
A :
"Atane kowen pan maring ngendi maning."
B :
"Nyong pan maring warnet. Pan melu?"
A :
"Neng kana pan apa?"
B :
"Pan ngerjakna PR kliping. Sida melu?"
A :
"Ya wis, tapi sing mbayari sapa?"
B :
"Urunan wis. Oke?"
A :
"Oke wis. Makasih."
Ciri khas
Selain pada intonasinya, dialek Tegal memiliki
ciri khas pada pengucapan setiap frasanya, yakni apa yang terucap sama dengan
yang tertulis. Secara positif -seperti dipaparkan oleh Ki Enthus Susmono dalam Kongres Bahasa Tegal I- hal ini dinilai memengaruhi
perilaku konsisten masyarakat penggunanya. Untuk lebih jelas, mari kita amati
beberapa contoh dan tabel berikut ini:
- padha, dalam dialek Tegal tetap diucapkan 'pada', seperti pengucapan bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan podho.
- saka, (dari) dalam dialek Tegal diucapkan 'saka', tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan soko.
Dalam
kasus tersebut, Enthus menilai masyarakat pengguna bahasa Jawa wetanan
(Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya) kurang konsisten ketika mengucapkan gatutkaca
ditambahi akhiran ne. Kata itu bukan lagi diucapkan gatutkocone,
melainkan katutkacane, seperti yang dituturkan oleh masyarakat Tegal
Tokoh dialek Tegal
- Ki Enthus Susmono, yang selalu setia memasukkan unsur dialek Tegal dalam setiap pementasan wayangnya
- Lanang Setiawan, yang telaten mengumpulkan kosa kata dialek Tegal kemudian disusun dalam Kamus Bahasa Tegal. Lanang juga produktif menciptakan lagu-lagu Tegalan yang disebarkan melalui jalur indie label.
- Ki Slamet Gundono
- Hadi Utomo
- Yono Daryono, yang menggagas Kongres Bahasa Tegal I
Wilayah pengguna
Berikut
adalah pemetaan masyarakat pengguna dialek Tegal:
- Kabupaten Brebes
- Kota Tegal
- Kabupaten Tegal
- Bagian barat Kabupaten Pemalang
BAB 3
METODE
PENELITIAN
Metode Penelitian
Penyusunan karya tulis yang
bersifat ilmiah, diperlukan suatu penelitian. Sehubung dengan itu maka dalam
penyelesaian karya tulis ini diperlukan 3 macam metode, yaitu :
3.1 Metode Observasi, yaitu penulis terjun langsung ke objek yang dijadikan bahan penulisan.
3.2 Metode Wawancara, yaitu penulis melakukan wawancara kepada pihak yang terkait maupun
dengan masyarakat tentang objek yang dijadikan bahan penelitian.
3.3 Metode Studi Pustaka, yaitu penulis mengambil data-data yang diperlukan dalam buku-buku
media sosial.
BAB
4
PEMBAHASAN
|
NO
|
Bahasa Tegal
|
|
1
|
Aor
|
|
2
|
Mentiung
|
|
3
|
Gembrangsang
|
|
4
|
Petaora
|
|
5
|
Donge
|
|
6
|
Bonggan
|
|
7
|
Singakon
|
|
8
|
Kayong
|
|
9
|
Kemletuk
|
|
10
|
Klalaran
|
|
11
|
Abane
|
|
12
|
Mener
|
|
13
|
Tapuk
|
|
14
|
Srang-srong
|
|
15
|
Nggremeng
|
|
16
|
Trengginas
|
|
17
|
Clekatakan
|
|
18
|
Cebrik-cebrik
|
|
19
|
Kecean
|
|
20
|
Mecucu
|
|
21
|
Junun
|
|
22
|
Medigrog
|
|
23
|
Metatak
|
|
24
|
Metangkrok
|
|
25
|
Nggries
|
|
26
|
Ngoyos
|
|
27
|
Glasahan
|
|
28
|
Kemresek
|
|
29
|
Sablekatak
|
|
30
|
Petakilan
|
|
31
|
Badeg
|
|
32
|
Dicutiki
|
|
33
|
Prengasane
|
|
34
|
Puas ladas
|
|
35
|
Sliwer
|
|
36
|
Kroak
|
|
37
|
Nggragas
|
|
38
|
Lingak-linguk
|
|
39
|
Dikrues
|
|
40
|
Sakecopoke
|
|
41
|
Akiran
|
|
42
|
Ngenjeg
|
|
43
|
Ndogrog
|
|
44
|
Kanclep
|
|
45
|
Mulet
|
|
46
|
Klembagen
|
|
47
|
Mrojol
|
|
48
|
Awang-awangan
|
|
49
|
Mrendot
|
|
50
|
Ngah-ngahan
|
BAB
5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penggunaan bahasa daerah seperti
dialek Tegal dapat memengaruhi seseorang dalam hal pemahaman. Dan diantara
banyaknya Bahasa Tegal ada beberapa kosakata yang artinya sulit diterjemahkan
kedalam Bahasa Indonesia.
5.2 Saran
Sebagai generasi muda hendaknya kita
melestarikan peninggalan kebudayaan nenek moyang kita. Dan mencegah masuknya
kebudayaan asing ke daerah kita.
Kongres bahasa Tegal
Kongres
bahasa Tegal I digelar oleh pemerintah Kota Tegal pada tanggal 4 April 2006, di Hotel Bahari Inn kota Tegal. Acara yang digagas
oleh Yono
Daryono,
tersebut menghadirkan beberapa tokoh antara lain SN Ratmana (cerpenis), Ki Enthus Susmono (dalang Tegal), Eko Tunas (penyair Tegal). Tujuan digelarnya
kongres itu adalah mengangkat status dialek Tegalan
menjadi bahasa Tegal.
Pelopor
dan penggita bahasa Tegal adalah Lanang Setiawan. Selain menciptakan lagu-lagu
tegalan, ia juga menerbitkan tabloid tegalan, TEGAL TEGAL, menulis novel
berjudul Oreg Tegal, dan secara rutin menulis kolom tetap Anehdot Tegalan di harian Pagi Nirmala Post. Karena kesetiaannya, pada
19 Oktober 2008 ia menerima anugerah Penghargaan Penggiat
Bahasa Tegal dari Walikota Tegal, Adi Winarso.
Bahasa gaul
Tak
kalah dengan daerah lain, Tegal juga memiliki bahasa gaul yang asal muasalnya
dari bahasa prokem. Bahasa ini pertama digunakan oleh para gerilyawan saat
perang kemerdekaan. Namun perkembangan selanjutnya menunjukkan, bahasa prokem
beralih fungsi menjadi bahasa gaul. Pola pembentukan bahasa gaul Tegal
menggunakan distribusi fonem. Contoh kata jasak berasal dari kata bapak
(bapa). Di sini huruf B digeser (diganti) dengan huruf J, dan huruf P
diganti dengan huruf S. Sementara huruf hidup (vokal) tidak mengalami
perubahan.
Kosa kata bahasa gaul Tegal
|
Asal
kata
|
Bahasa
Gaul Tegal
|
|
Aku
|
Yanu
|
|
bapa (k)
|
Jasak
|
|
mbok (ibu)
|
Jok
|
|
batir (teman)
|
Jakwir
|
|
kakang (kakak)
|
Sahang
|
|
Minum
|
Nyikung
|
|
Adik
|
Yarik
|
|
balik (pulang)
|
Jagin
|
|
wadon (cewek)
|
Tarok
|